Menu Close

Menyemai Rindu kepada Gus Dur

Meski tujuh tahun Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah kembali ke pangkuan-Nya, semua orang yang pernah berhubungan dengannya tetap menjaga kerinduan. Raga tak mungkin lagi bertemu, tetapi Gus Dur mewariskan cahaya nilai kebangsaan yang terjaga kekekalannya.

MMD Initiative, salah satu lembaga yang konsisten menyelenggarakan sarasehan dalam tujuh tahun terakhir untuk memperingati haul presiden ke-4 Indonesia itu. Tema ”Gus Dur sebagai Aktivis” dipilih pada tahun ini seiring kondisi bangsa yang rapuh karena ancaman intoleransi hingga radikalisme.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara itu. Mulai dari mantan Menteri Sekretaris Negara Bondan Gunawan, mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, peneliti Centre for Strategic and International Studies J Kristiadi, dan intelektual muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla. Dari pihak keluarga hadir Sinta Nuriyah, istri Gus Dur. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menjadi tuan rumah dalam sarasehan itu.

Dalam pertemuan yang berlangsung di bawah tenda merah-putih serta diawali makan malam dengan menu sate ayam dan soto daging, Sinta mengatakan, haul tahun ini berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Sebab, saat ini, bangsa Indonesia tengah mengalami kegalauan akibat banyak fitnah, caci maki, dan ujaran kebencian yang bertebaran di media sosial.

”Dalam kondisi ini, masyarakat menjadi rindu kepada Gus Dur,” kata Sinta dalam acara yang dilaksanakan di kantor MMD Initiative, Jakarta, Rabu (11/1).

Gus Dur dianggap mampu mengayomi dan menyejukkan bagi kaum minoritas yang ketakutan dan resah terhadap intimidasi dari mayoritas, sedangkan bagi mayoritas yang ”dizalimi” minoritas elite, Gus Dur dapat menjadi penyambung lidah tanpa mengorbankan integritas bangsa.

Masyarakat, ujar Luhut, merindukan Gus Dur sebagai sosok yang mampu meredam situasi panas bangsa. Setiap bangsa pasti memiliki perbedaan, tetapi perbedaan itu jangan menjadi pemecah belah. Perbedaan harus menjadi modal perdamaian.

”Kalau Gus Dur lihat masalah saat ini, mungkin ia sudah buat joke. Mari kita mengenang Gus Dur untuk membuat bangsa lebih tenang,” tutur Luhut sembari tersenyum.

Menurut Ulil, Gus Dur menjadikan Islam bukan untuk menghancurkan nilai-nilai yang sudah ada di Tanah Air, tetapi sebagai ideologi komplementer yang menyempurnakan nilai-nilai baik yang sudah lestari di masyarakat Indonesia. Ajaran Gus Dur untuk menjaga keutuhan NKRI dengan Islam yang inklusif, kata Mahfud, harus dirawat generasi penerus.

Kristiadi menambahkan, kondisi bangsa saat ini disebabkan lembaga-lembaga negara tidak mampu mewujudkan keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan. Semasa hidupnya, lanjut Kristiadi, Gus Dur selalu menggaungkan nilai-nilai itu sebagai perwujudan Pancasila, tetapi dalam perjalanan bangsa saat ini Pancasila belum diwujudkan dalam pengambilan kebijakan oleh pemerintah dan lembaga negara.

Dalam sebuah syair, sufi karismatik Jalaludin Rumi menulis, ”Bukanlah karena kematian itu kau akan masuk ke alam kubur. Namun, karena kematian adalah perubahan untuk masuk ke dalam cahaya”. Melalui pandangan dan pemikirannya, sosok Gus Dur laiknya sebuah cahaya yang akan terus menerangi Bumi Pertiwi.

(MUHAMMAD IKHSAN MAHAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *