Menu Close

Reformasi Bisa Menangkal Radikalisme

Kompas, Selasa, 23 Nov 2010

Reformasi di Arab Saudi yang digulirkan Pangeran Abdullah diperkirakan mampu menangkal perkembangan radikalisme yang disponsori sekte Wahabi. Mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kwan Yew, yang diwawancarai wartawan senior Tom Plate yang dibukukan dalam Citizen of Singapore: How To Buil A Nation mengungkapkan pandangan, pujian, dan kritik terhadap Arab Saudi dan radikalisme.

“Universitas Raja Abdullah dengan jurusan Ilmu Alam dan Teknologi membuka kesempatan bagi perempuan untuk belajar. Mereka boleh belajar bersama rekan pria. Ini merupakan momentum bagi Arab Saudi untuk perubahan yang dimulai generasi muda,” kata Lee. Di luar kompleks universitas semua aturan kembali diberlakukan.

Kebijakan itu merupakan terobosan di Arab Saudi. Lee menceritakan pengalaman masa mudanya, sahabat-sahabat Melayu di Malaysia saat bersekolah di Inggris dengan hidup sangat sekuler serta saling menghormati.

Setelah Arab Saudi kebanjiran uang dari hasil minyak, gaya konservatif Wahabi mulai ditularkan ke Malaysia. Kondisi serupa, ujar Lee, juga berdampak pada Indonesia, yang dalam pandangan Lee, relatif sangat moderat. Muslim di Jawa memiliki pelbagai tradisi yang berasal dari zaman leluhur, Hindu-Buddha yang melebur dalam harmoni.

Hanya sekelompok kecil masyarakat Indonesia yang terpengaruh ide puritan agama. “Itu pun yang memimpin mereka adalah seorang Arab, bukan orang Jawa,” ujar Lee merujuk kepada seorang tokoh kelompok radikal yang baru saja ditangkap polisi.

Pandangan Hernando de Soto

Pengaruh “pemurnian” itu, lanjut Lee, mengganggu stabilitas kawasan. Lee Kwan Yew mengatakan, seorang pejabat dari Mauritius satu kali bertanya, apa ada keanehan dari warga Singapura yang sering berhubungan dan mendapat bantuan Timur Tengah. Menurut pejabat Mauritius itu, warganya yang sering berhubungan dengan kelompok Wahabi menjadi eksklusif dan memisahkan diri dari masyarakat umum.

Kondisi serupa juga terjadi di negara-negara lain, termasuk Singapura. Orang-orang dari negara miskin dicekoki dan pengaruh asing pun sulit dibendung. “Kondisi tersebut merupakan ironi,” kata Lee Kwan Yew.

Padahal, dalam saat bersamaan, kelompok elite Kerajaan Arab Saudi dan generasi mudanya meluangkan akhir pekan bersenang-senang secara bebas di Dubai atau pun Beirut.

Jalan keluar bagi situasi mendua tersebut adalah reformasi di Arab Saudi, terutama bagi generasi muda dan elite kerajaan. Reformasi diyakini Lee Kwan Yew akan akan membawa stabilitas global secara luas.

Akan tetapi, tentunya reformasi tidak hanya terbatas pada aspek kebudayaan dan sosial serta politik. Masalahnya, radikalisme tidak melulu terkait soal agama, tetapi juga bisa didorong oleh faktor kemiskinan.

Ekonom Peru, Hernando de Soto, dalam sebuah bukunya The Other Path menuliskan, salah satu alternatif untuk membuat kelompok gerilyawan Peru, The Shining Path, meninggalkan gerakan bersenjata adalah dengan mengikis jumlah warga miskin di Peru. Ini terjadi di bawah mantan Presiden Alberto Fujimori. Pertumbuhan ekonomi mengikis radikalisme.

“Radikalisme tidak melulu terkait soal agama, tetapi juga bisa didorong oleh faktor kemiskinan.”
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *