Menu Close

Lampion di Hati Kita

Agama bukan cuma doa sunyi berlumur air mata melainkan juga kegembiraan, karena itu kita mengenal kata hari “raya”, “perayaan”, bukan hari “kelam” atau “perkabungan”, perayaan adalah hak semua pemeluk agama, hak untuk bergembira bersama Tuhan dan sesama. Agama sendiri adalah kabar gembira bagi manusia yang selama ini diperbudak nafsu jahat. Dia datang sebagai lampion yang menerangi kegelapan hati manusia dan mencipta damai di bumi.

Sementara, di Solo, segerombolan orang berdemo menolak lampion di depan balai kota. Lampion sendiri merupakan pernak pernik hari raya Imlek, tahun baru Cina. Demo tersebut saya sebut aneh karena memusuhi perayaan hanya karena embel-embel “asing”. Demo tersebut meringkus perayaan hanya sebagai “yang pribumi”. Padahal perayaan tidak mengenal suku, agama dan ras. Apa yang tengah terjadi sejatinya adalah benturan antara kebencian dan kegembiraan, antara gelap dan terang. Benturan antara kita yang ingin memelihara kesukacitaan dan gerombolan yang menebar ketakutan. Di hati kita semua tersembunyi lampion yang terang atau redupnya ditentukan oleh cinta dan toleransi. Saya yakin mereka yang berteriak anti lampion itu mengalami defisit terang di dalam hati. Mereka yang disesaki benci dan dengki demi keyakinan. Semoga kita semua dijauhkan dari kuasa gelap sedemikian. Demi republik yang bhineka, gembira dan makmur. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *